Silih berganti dikunjungi pesohor negeri dari berbagai lembaga dan kementerian belum banyak merubah wajah Natuna.
Diusia 23 tahun Natuna berdiri, Kabupaten dengan 17 kecamatan, 7 kelurahan dan 70 desa ini masih biasa-biasa saja, tidak ada pembangunan yang wah, seperti wacana pemerintah pusat untuk Natuna lebih pesat.
Pembangunan yang ada di pulau Perbatasan ini masih terkesan lesu dan jalan ditempat. Padahal, dalam setiap kunjungan kementerian dan lembaga selalu menjanjikan sejumlah program pembangunan agar Natuna lebih pesat dan berkembang setara dengan kota-kota besar di Indonesia, bahkan bisa mengimbangi negara tetangga di perbatasan.
Sebagai pulau yang berada digarda terdepan NKRI, pembangunan yang pesat diberbagai sektor menjadi hal penting bagi Natuna, terlebih wilayah ini berbatasan langsung dengan sejumlah negara tetangga. Kemajuan Natuna tentu akan menjadi kebanggaan Indonesia sebagai pengawal perbatasan.
Dilain sisi, sebagai daerah kaya hasil laut dan migas Natuna tidak luput dari lirikan negara-negara tetangga yang ingin menikmati hasil alam yang ada. Illegal Fishing yang dilakukan nelayan asing di laut Natuna bukti nyata ancaman itu selalu ada didepan mata kapan saja.
Jika melihat data kunjungan pejabat pusat ke Natuna yang masif, tentu sudah banyak kucuran anggaran dan pembangunan yang terlaksana di negeri bertajuk “Laut Sakti Rantau Bertuah”.
Namun faktanya hari ini, Natuna yang dielu-elukan masih tertatih berjalan diatas kaki sendiri dengan anggaran serba terbatas. Tidak ada suntikan dana khusus dari pemerintah pusat untuk merubah wajah Natuna agar disegani negara tetangga.
Negeri kaya migas ini malah semakin terpuruk. Beberapa tahun terakhir Natuna selalu mengalami krisis keuangan akibat tunda salur yang telat dari pemerintah pusat. DBH migas yang menjadi tumpuan pendapatan Natuna sering macet sehingga berdampak terhadap roda pemerintahan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Menyandang status sebagai daerah penghasil migas tidak membuat Natuna unggul disegala bidang. infrastruktur dan pembangunan lainya masih sangat minim, jalan, sarana transportasi hingga sanana kesehatan masih sangat terbatas.
Sebagai pulau terluar yang memiliki potensi besar dan letak strategis sudah seharusnya pemerintah pusat memberikan perhatian khusus dan lebih ke Natuna. Selain sebagai garda terdepan NKRI, Natuna juga memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) melimpah sebagai modal untuk mensejahterakan masyarakatnya.
Potensi Perikanan dan Migas yang dimiliki Natuna selayaknya, dapat memberikan dampak langsung untuk peningkatan kesejahteraan, pembangunan yang pesat disegala bidang.
Masyarakat berharap, kunjungan pemerintah pusat ke Natuna tidak hanya menebar janji dan menjadi pelengkap laporan administrasi, pulang lalu dilupakan. Perhatian dan realisasi terus dinanti untuk kemajuan negeri.